Piala Dunia selalu menghadirkan cerita besar yang tidak hanya melibatkan para pemain di atas lapangan. Di balik setiap kemenangan dan kegagalan, SBOTOP melihat bahwa ada sosok pelatih yang ikut mempertaruhkan reputasi, karier, hingga masa depannya bersama tim nasional. Tak heran jika turnamen empat tahunan ini kerap menjadi titik akhir dari sebuah proyek jangka panjang, terutama bagi pelatih yang gagal memenuhi ekspektasi.
Fenomena tersebut kembali terlihat pada Piala Dunia 2026. Saat turnamen belum sepenuhnya berakhir, sudah ada 12 pelatih kepala yang dipastikan tidak lagi menangani tim nasionalnya. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 25 persen dari seluruh pelatih yang mengawali kompetisi, memperlihatkan betapa besarnya tekanan yang harus dihadapi setiap pelatih di panggung sepak bola paling bergengsi di dunia.
Kepergian para pelatih itu terjadi dengan berbagai latar belakang. Ada yang memilih mundur atas keinginan sendiri, ada yang memang telah merencanakan perpisahan sejak jauh hari, sementara sebagian lainnya harus mengakhiri masa jabatan setelah gagal membawa negaranya melangkah lebih jauh. Kondisi ini menjadi bukti bahwa hasil di Piala Dunia sering kali menjadi tolok ukur utama keberhasilan sebuah proyek tim nasional.
Zlatko Dalic Tutup Babak Bersejarah Bersama Kroasia
Nama terbaru yang masuk dalam daftar pelatih yang berpisah dengan tim nasional adalah Zlatko Dalic. Pelatih asal Kroasia tersebut memutuskan mengakhiri kebersamaannya setelah timnya tersingkir pada babak 32 besar usai dikalahkan Portugal.
Keputusan itu sekaligus menutup perjalanan hampir sembilan tahun yang penuh pencapaian. Di bawah kepemimpinan Dalic, Kroasia menjelma menjadi salah satu kekuatan baru sepak bola dunia dengan menembus final Piala Dunia 2018 serta meraih peringkat ketiga pada edisi 2022. Rekam jejak tersebut membuat namanya dikenang sebagai salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Kroasia.
Berakhirnya era Dalic juga menambah panjang daftar pelatih yang meninggalkan jabatannya setelah Piala Dunia 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan di masa lalu tidak selalu menjadi jaminan untuk mempertahankan posisi ketika hasil terbaru tidak sesuai harapan.
Ada yang Sudah Direncanakan, Ada Pula yang Datang Mendadak
Tidak semua perpisahan terjadi akibat tekanan setelah tersingkir dari turnamen. Beberapa pelatih memang sudah menetapkan Piala Dunia 2026 sebagai akhir dari perjalanan mereka bersama tim nasional.
Marcelo Bielsa, misalnya, telah lebih dulu mengumumkan bahwa dirinya akan mengakhiri masa tugas bersama Uruguay setelah turnamen selesai. Karena itu, kegagalan Uruguay melaju dari fase grup hanya mempercepat perpisahan yang memang telah dijadwalkan.
Situasi serupa juga terjadi di Meksiko. Javier Aguirre mengakhiri periode ketiganya sebagai pelatih tim nasional setelah kekalahan dari Inggris. Federasi sepak bola Meksiko bahkan telah menyiapkan proses transisi dengan menunjuk Rafael Márquez sebagai sosok yang diproyeksikan menjadi penerus.
Sementara itu, sejumlah pelatih memilih mengundurkan diri setelah mengevaluasi pencapaian tim masing-masing. Ronald Koeman memutuskan meninggalkan Belanda usai kegagalan pada fase gugur, sedangkan Sebastián Beccacece mengakhiri kiprahnya bersama Ekuador setelah perjalanan timnya terhenti lebih cepat dari yang diharapkan.

Julian Nagelsmann juga mengalami situasi yang cukup menarik. Setelah Jerman tersingkir, ia sempat membuka peluang untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. Namun beberapa hari kemudian, pelatih muda tersebut akhirnya memilih mengakhiri masa baktinya.
Portugal pun memasuki babak baru setelah Roberto Martínez menyudahi proyek yang telah berjalan selama tiga setengah tahun. Kekalahan pada babak 16 besar menjadi penutup perjalanan mantan pelatih Belgia tersebut bersama Selecao das Quinas.
Daftar Pelatih yang Berpisah dengan Tim Nasional
Hingga fase gugur Piala Dunia 2026, terdapat 12 pelatih yang dipastikan tidak lagi menangani negaranya masing-masing. Sabri Lamouchi menjadi pelatih pertama yang kehilangan jabatan setelah Tunisia mengalami kekalahan telak pada laga pembuka. Keputusan cepat tersebut menunjukkan bahwa sebagian federasi tidak ingin menunggu lebih lama untuk melakukan perubahan.
Steve Clarke juga mengakhiri masa kepelatihannya bersama Skotlandia. Meski sebelumnya berhasil membawa negaranya kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian panjang selama 28 tahun, kegagalan lolos dari fase grup membuat kerja samanya berakhir.
Miroslav Koubek memilih mundur dari Republik Ceko beberapa hari setelah timnya tersingkir. Selain hasil pertandingan, situasi yang berkembang di media dalam negeri turut menjadi salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan tersebut.
Hong Myung-bo pun harus meninggalkan kursi pelatih Korea Selatan setelah mendapat tekanan besar menyusul kegagalan timnya melangkah ke fase berikutnya. Kritik tajam yang diterimanya semakin memperumit situasi hingga akhirnya ia memilih mengakhiri tugas. Selain mereka, Marcelo Bielsa, Sebastián Beccacece, Ronald Koeman, Julian Nagelsmann, Javier Aguirre, Carlos Queiroz, Roberto Martínez, dan Zlatko Dalic juga resmi mengakhiri perjalanan bersama tim nasional masing-masing setelah Piala Dunia 2026.
Tekanan Piala Dunia Tidak Pernah Berubah
Menjadi pelatih tim nasional memiliki tantangan yang berbeda dibanding menangani klub. Waktu persiapan yang terbatas membuat setiap keputusan harus diambil secara tepat, sementara ekspektasi publik dan media selalu berada pada level tertinggi.
Ketika hasil pertandingan tidak sesuai target, pelatih menjadi pihak pertama yang menerima sorotan. Bahkan keberhasilan pada turnamen sebelumnya sering kali tidak cukup untuk mempertahankan posisi apabila prestasi terbaru dianggap mengecewakan.
Karena itulah, Piala Dunia kerap menjadi momen evaluasi terbesar bagi berbagai federasi sepak bola. Turnamen ini tidak hanya menentukan nasib pemain, tetapi juga arah pembangunan tim nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Regenerasi Pelatih Mulai Terlihat
Gelombang perpisahan yang terjadi pada Piala Dunia 2026 membuka peluang munculnya generasi baru pelatih tim nasional. Banyak negara kini dihadapkan pada keputusan penting untuk menentukan sosok yang mampu membangun fondasi baru menuju kompetisi internasional berikutnya.
Sejumlah federasi kemungkinan akan memberikan kesempatan kepada pelatih muda dengan pendekatan taktik yang lebih modern. Di sisi lain, beberapa negara mungkin tetap memilih pelatih berpengalaman demi menjaga stabilitas dan mempercepat proses adaptasi.
Perubahan ini diperkirakan akan membawa warna baru dalam persaingan sepak bola internasional. Filosofi permainan, metode latihan, hingga strategi pengembangan pemain muda berpotensi mengalami penyesuaian seiring hadirnya wajah-wajah baru di kursi pelatih.
●●●
Kunjungi halaman blog kami untuk membaca berita SEPAK BOLA dan informasi pasaran taruhan
Selalu menjadi yang terdepan dalam mendapatkan informasi seputar olahraga dan bursa taruhan



